PT Kemasindo Cepat Nusantara

Green Logistics: Tren Baru atau Kebutuhan Industri Pengiriman?

Isu keberlanjutan semakin memengaruhi cara perusahaan mengelola rantai pasok. Pelanggan, regulator, investor, dan pemilik barang tidak lagi hanya mempertimbangkan biaya serta kecepatan pengiriman, tetapi juga mulai memperhatikan dampak lingkungan yang dihasilkan selama barang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Perubahan ini membuat konsep green logistics atau logistik hijau semakin banyak dibicarakan dalam industri pengiriman. Green logistics mencakup berbagai upaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan transportasi, pergudangan, distribusi, pengemasan, dan pengelolaan rantai pasok.

Namun, apakah green logistics hanya tren baru yang digunakan untuk memperkuat citra perusahaan? Atau sudah menjadi kebutuhan yang menentukan daya saing industri pengiriman?

Perkembangan kebijakan internasional, standar penghitungan emisi, dan tuntutan pelaporan keberlanjutan menunjukkan bahwa green logistics mulai bergeser dari inisiatif sukarela menjadi kebutuhan strategis. International Maritime Organization telah menetapkan arah pengurangan emisi pelayaran internasional, sementara regulasi seperti FuelEU Maritime sudah memberlakukan batas intensitas emisi energi bagi kapal tertentu yang singgah di pelabuhan Eropa sejak 1 Januari 2025.

Apa yang Dimaksud dengan Green Logistics?

Green logistics adalah pendekatan pengelolaan logistik yang berupaya menekan dampak lingkungan tanpa mengabaikan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Penerapannya dapat mencakup transportasi barang, aktivitas gudang, pengemasan, distribusi, pengelolaan limbah, hingga pengiriman balik atau reverse logistics.

Tujuan green logistics tidak terbatas pada mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik. Perusahaan juga dapat mengurangi emisi dengan memilih rute yang lebih efisien, meningkatkan kapasitas muatan, mengurangi perjalanan kosong, menggunakan moda transportasi rendah karbon, dan memperbaiki koordinasi antara kapal, pelabuhan, gudang, serta kendaraan darat.

Pendekatan ini juga membutuhkan sistem pengukuran yang konsisten. International Organization for Standardization menerbitkan ISO 14083:2023 sebagai metodologi umum untuk menghitung dan melaporkan emisi gas rumah kaca dari operasi rantai transportasi penumpang maupun barang. Prinsip dalam standar tersebut mencakup relevansi, kelengkapan, konsistensi, akurasi, dan transparansi.

Mengapa Green Logistics Semakin Dibutuhkan?

1. Industri Pengiriman Menghasilkan Emisi dalam Jumlah Signifikan

Transportasi dan logistik merupakan bagian penting dari perekonomian global, tetapi aktivitasnya masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Emisi tidak hanya muncul dari kapal dan truk, tetapi juga dari pesawat kargo, peralatan bongkar muat, fasilitas penyimpanan, pendingin, serta penggunaan listrik di pusat distribusi.

Menurut Fourth IMO Greenhouse Gas Study, emisi gas rumah kaca dari keseluruhan aktivitas pelayaran meningkat dari 977 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2012 menjadi 1,076 miliar ton pada 2018. Kontribusinya terhadap emisi antropogenik global juga naik dari 2,76% menjadi 2,89% dalam periode yang sama. Untuk pelayaran internasional, emisi CO₂ diperkirakan menyumbang sekitar 2% dari emisi CO₂ global berdasarkan metode alokasi perjalanan.

Dalam cakupan yang lebih luas, Smart Freight Centre menyebut aktivitas pengangkutan barang dan logistik berkontribusi sekitar 8–10% terhadap emisi gas rumah kaca global. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pengurangan emisi logistik membutuhkan tindakan yang mencakup seluruh rantai transportasi, bukan hanya satu moda pengiriman.

2. Regulasi Lingkungan Semakin Ketat

Salah satu alasan green logistics tidak lagi dapat dianggap sebagai tren sementara adalah perkembangan regulasi. Industri pelayaran internasional mulai berhadapan dengan target pengurangan emisi yang lebih terukur, baik secara global maupun regional.

Strategi emisi 2023 dari International Maritime Organization menargetkan penurunan intensitas karbon pelayaran internasional setidaknya 40% pada 2030. Strategi tersebut juga mengarahkan penggunaan teknologi, bahan bakar, atau sumber energi dengan emisi nol dan mendekati nol untuk mencapai sedikitnya 5%, serta diupayakan mencapai 10%, dari energi yang digunakan pelayaran internasional pada 2030. Target jangka panjangnya adalah mencapai emisi nol bersih pada atau sekitar 2050.

Di kawasan Eropa, FuelEU Maritime berlaku penuh sejak 1 Januari 2025. Regulasi tersebut menetapkan penurunan bertahap terhadap intensitas emisi gas rumah kaca dari energi yang digunakan kapal dengan ukuran di atas 5.000 gross tonnage yang singgah di pelabuhan Uni Eropa, tanpa membedakan bendera kapalnya. Target pengurangannya dimulai sebesar 2% pada 2025 dan meningkat hingga 80% pada 2050.

Perkembangan ini tetap relevan bagi freight forwarder dan eksportir Indonesia. Walaupun perusahaan tidak mengoperasikan kapal sendiri, regulasi terhadap pelayaran dapat memengaruhi pilihan carrier, struktur tarif, ketersediaan layanan rendah karbon, dan data emisi yang diminta oleh pelanggan internasional.

3. Pelanggan Membutuhkan Data Emisi yang Lebih Transparan

Pelanggan korporasi semakin membutuhkan informasi mengenai emisi dari aktivitas logistik mereka. Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun laporan keberlanjutan, menghitung emisi rantai pasok, membandingkan penyedia jasa, dan merancang target pengurangan karbon.

Tantangannya, satu perjalanan shipment dapat melibatkan beberapa moda, seperti truk, kapal, kereta, pesawat, gudang, terminal, dan pusat distribusi. Tanpa metode yang sama, hasil perhitungan emisi dari dua penyedia jasa dapat sulit dibandingkan.

ISO 14083:2023 memberikan metodologi umum untuk menghitung dan melaporkan emisi dari rantai transportasi. Sementara itu, GLEC Framework dari Smart Freight Centre menyediakan kerangka praktis untuk penghitungan emisi logistik multimoda dan menjadi landasan pengembangan ISO 14083. Kerangka tersebut dapat diterapkan oleh pemilik barang, carrier, dan penyedia jasa logistik.

Bagi freight forwarder, kemampuan menyajikan emisi per shipment dapat menjadi nilai tambah. Pelanggan tidak hanya menerima informasi mengenai harga dan waktu transit, tetapi juga memperoleh gambaran dampak lingkungan dari rute dan moda yang dipilih.

Green Logistics di Indonesia

Green logistics juga semakin mendapat perhatian di Indonesia. Pada 19 Februari 2026, Green Logistics Talk 2026 diselenggarakan di Jakarta dengan melibatkan pemerintah, pelaku industri, perusahaan logistik, manufaktur, akademisi, auditor karbon, dan asosiasi. Forum tersebut membahas transformasi logistik rendah karbon, pengukuran emisi, investasi teknologi bersih, dan integrasi kebijakan keberlanjutan.

Pembahasan dalam forum tersebut menekankan bahwa emisi dari konsumsi bahan bakar pada transportasi barang, pergudangan, distribusi, dan aktivitas rantai pasok perlu dikelola secara lebih terukur. Penghitungan karbon yang transparan juga dipandang penting agar komitmen lingkungan tidak hanya berupa klaim, tetapi dapat dibuktikan melalui data.

Indonesia juga telah menyampaikan Second Nationally Determined Contribution kepada United Nations Framework Convention on Climate Change pada Oktober 2025. Dokumen tersebut mempertahankan arah menuju emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat, mencakup sektor energi, proses industri, limbah, pertanian, serta kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. Strategi mitigasinya antara lain mencakup efisiensi energi, kendaraan listrik, biofuel, dan bahan bakar rendah karbon.

Cara Menerapkan Green Logistics dalam Freight Forwarding

1. Mengoptimalkan Rute dan Konsolidasi Muatan

Rute yang lebih pendek belum tentu selalu menjadi rute dengan emisi paling rendah. Perusahaan perlu mempertimbangkan jarak, tingkat kemacetan, waktu tunggu, jenis kendaraan, kapasitas muatan, dan kebutuhan transit.

Konsolidasi beberapa shipment dalam satu kendaraan atau kontainer juga dapat meningkatkan tingkat utilisasi. Semakin banyak barang yang dapat dipindahkan dalam satu perjalanan, semakin rendah potensi emisi per unit muatan. GLEC Framework mendorong perusahaan untuk mengurangi perjalanan yang tidak diperlukan, menghindari perjalanan kosong, dan mengoptimalkan penggunaan kapasitas yang tersedia.

2. Menawarkan Pilihan Moda Pengiriman

Tidak semua shipment harus menggunakan transportasi udara atau kendaraan khusus. Freight forwarder dapat membantu pelanggan membandingkan pilihan laut, udara, darat, kereta, atau kombinasi multimoda berdasarkan biaya, waktu transit, dan estimasi emisi.

Untuk barang yang tidak mendesak, pengiriman laut atau kereta dapat menjadi alternatif yang perlu dievaluasi. Namun, keputusan harus tetap mempertimbangkan jarak, jenis energi, rute, utilisasi, kebutuhan pendinginan, dan proses penanganan barang.

Penghitungan yang mengikuti metodologi konsisten memungkinkan perbandingan antarjenis transportasi dilakukan secara lebih transparan. GLEC Framework dirancang untuk menghitung emisi pada rantai pasok multimoda dan membantu perusahaan memilih moda, rute, serta penyedia layanan berdasarkan data.

3. Mengurangi Perjalanan Kosong

Kendaraan yang kembali tanpa membawa muatan tetap mengonsumsi bahan bakar dan menghasilkan emisi. Freight forwarder dapat bekerja sama dengan carrier untuk mencari muatan balik, menggabungkan jadwal pengiriman, atau mengoptimalkan jaringan distribusi.

Selain mengurangi emisi, strategi ini juga dapat meningkatkan produktivitas kendaraan dan membantu menekan biaya operasional. Karena itu, green logistics tidak selalu membutuhkan investasi teknologi yang mahal. Perbaikan perencanaan dan utilisasi aset sudah dapat memberikan dampak positif.

4. Menggunakan Fasilitas Pergudangan yang Efisien

Penerapan green logistics tidak berhenti ketika barang tiba di gudang. Pusat distribusi membutuhkan listrik untuk pencahayaan, pendinginan, sistem informasi, conveyor, forklift, dan peralatan penanganan barang.

Perusahaan dapat mengurangi konsumsi energi melalui pencahayaan hemat energi, sistem pendingin yang efisien, pemanfaatan energi terbarukan, pengaturan tata letak gudang, serta pemeliharaan peralatan. Digitalisasi inventaris juga dapat mengurangi pergerakan barang yang tidak perlu dan mempercepat proses pemenuhan pesanan.

5. Mengurangi dan Mendesain Ulang Kemasan

Kemasan yang terlalu besar dapat mengurangi kapasitas kendaraan atau kontainer. Akibatnya, lebih banyak perjalanan diperlukan untuk mengangkut jumlah produk yang sama.

Perusahaan dapat mengevaluasi ukuran kemasan, menggunakan material yang dapat didaur ulang, mengurangi lapisan yang tidak diperlukan, dan menerapkan kemasan yang dapat digunakan kembali. Langkah tersebut berpotensi mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi ruang pengiriman.

6. Mengukur Emisi Setiap Pengiriman

Perusahaan perlu mengetahui sumber emisi sebelum menetapkan target pengurangan. Data yang dapat dikumpulkan meliputi jenis kendaraan, jarak tempuh, konsumsi bahan bakar, berat muatan, tingkat utilisasi, energi gudang, dan proses perpindahan antarmoda.

ISO 14083:2023 dapat digunakan sebagai acuan untuk memastikan pengukuran dilakukan secara konsisten. GLEC Framework juga membantu perusahaan menerjemahkan prinsip penghitungan emisi ke dalam proses operasional logistik, termasuk untuk pengiriman multimoda.

Tantangan Penerapan Green Logistics

Penerapan green logistics masih menghadapi beberapa tantangan. Kendaraan rendah emisi dan infrastruktur pengisian daya membutuhkan investasi, sementara ketersediaan bahan bakar alternatif belum merata. Perusahaan juga dapat mengalami kesulitan memperoleh data yang konsisten dari seluruh carrier dan mitra yang terlibat dalam pengiriman.

Selain itu, pilihan rute yang lebih ramah lingkungan tidak selalu menjadi pilihan tercepat atau termurah. Freight forwarder perlu menjelaskan konsekuensi setiap pilihan kepada pelanggan agar keputusan tidak hanya didasarkan pada klaim ramah lingkungan.

Tantangan lainnya adalah risiko greenwashing. Perusahaan tidak seharusnya menyebut suatu layanan sebagai “green” hanya karena menggunakan lebih sedikit kertas atau menanam pohon. Klaim lingkungan perlu didukung batas penghitungan yang jelas, data operasional, metodologi yang diakui, dan hasil yang dapat diverifikasi. Prinsip akurasi, konsistensi, kelengkapan, dan transparansi merupakan bagian mendasar dalam ISO 14083.

Apakah Green Logistics Akan Membuat Pengiriman Lebih Mahal?

Penerapan green logistics dapat membutuhkan investasi awal, terutama untuk kendaraan baru, sistem digital, pengukuran emisi, energi terbarukan, dan pelatihan sumber daya manusia. Biaya penggunaan bahan bakar rendah karbon juga dapat berbeda dari bahan bakar konvensional.

Namun, tidak seluruh inisiatif green logistics meningkatkan biaya. Optimasi rute, konsolidasi muatan, pengurangan perjalanan kosong, pemeliharaan kendaraan, dan efisiensi energi gudang justru dapat menekan konsumsi bahan bakar serta biaya operasional.

Karena itu, hubungan antara keberlanjutan dan biaya tidak selalu bertentangan. Green logistics yang disusun berdasarkan data dapat membantu perusahaan mengidentifikasi pemborosan, meningkatkan utilisasi aset, serta memilih solusi yang menghasilkan manfaat lingkungan dan bisnis secara bersamaan.

Kesimpulan

Green logistics tidak lagi dapat dianggap sebagai tren sementara. Target pengurangan emisi internasional, regulasi pelayaran, kebutuhan pelaporan pelanggan, dan perkembangan standar penghitungan karbon menunjukkan bahwa keberlanjutan mulai menjadi bagian dari cara industri pengiriman beroperasi.

Bagi freight forwarder, green logistics bukan hanya tentang mengganti kendaraan atau memilih bahan bakar alternatif. Penerapannya mencakup optimasi rute, konsolidasi muatan, pemilihan moda transportasi, efisiensi gudang, perbaikan kemasan, dan pelaporan emisi yang transparan.

Perusahaan yang mulai mengukur dan mengurangi emisi sejak sekarang akan lebih siap menghadapi perubahan regulasi dan kebutuhan pelanggan. Dengan demikian, green logistics bukan hanya kewajiban terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan ketahanan bisnis.

Scroll to Top